Orang ini bercerita kepada saya tentang kisahnya waktu bertaubat kepada allah asubahana wataallah. Sungguh kisah ini sangat menakjubkan. Sesungguhnya ini adalah kisah seorang insan ketika menjalani dua kehidupan, dua waktu dan dua masa yang berbeda. Masa ketika ia menjalani hidup antara kegelapan dan cahaya, antara hidayah dan kesesatan. Merasa terjaga dan raib entah kemana..... Orang ini tidak saya sebutkan namanya. Dia cukup terkenal daerahnya karena ibadah,tangisan, kekhusyukan, dan bacaan Al Qur'annya. Ia bercerita kepada saya tentang kisah pertaubatannya, dengan air mata yang terus bercucuran. Dulu ia seorang tentara di sebuah kota, membawa senapan dalam tugas pengawalan singkat. Pada masa itu ia memiliki tubuh yang kuat , tetapi mati hatinya. Berada di puncak masa muda, namun miskin kemauan. Tegap badanya, namun lemah imannya. Dia menceritakan kepada saya kalau dia tidak pernah sekali pun sujud karena allah. Ia tidak mengerti shalat, apa itu shalat dan bagaimana nilai sholat itu. Ia tidak pernah masuk mesjid kecuali saat pura-pura alim apabila terpaksa melakukan hal itu. Hal itu dilakukan untuk memcari muka di depan orang-orang agar dikatakan baik. Dia dulunya betul-betul berpaling dari Allah. Dia katakan kepada saya kalau dia selalu mengejek agama Islam. Ia tidak suka keshalihan dan juga orang-orang shalih. Apabila diajak kejalan Allah dia selalu mengulangi ungkapannya yang cukup terkenal. " Kafirkan saja terus terang, agar agama tidak akan bising lagi!" Dia pernah tidak mandi wajib. Bisa jadi karena terpaksa mencari muka di depan orang lain, dia kemudian masuk mesjid untuk shalat, masih dalam keadaan junub. Dia tidak mengerti wudhu.' Sebab, hatinya masih tidur terlelap dan mabuk kepayang. Di suatu kesempatan ia berdiri lalu menyalakan rokoknya. Dia lepaskan dahaga hatinya dengan gelas-gelas kemaksiatan dan nafsu syahwat. Dia biarkan matanya melihat yang haram. Dia biarkan pendengarannya menikmati nyanyian amoral. Dia biarkan seluruh anggota badannya sia-sia tanpa nilai dan norma. Dilihatnya seorang gadis lalu terus diliriknya dengan kedua bola matanya yang bagaikan peluru itu. Malamnya dihabiskan bersama kawula muda yang kehilangan dan tak tentu arah tujuan, begadang bersama dalam canda tawa, dalam kenistaan, dalam dahaga dan kesesatan. Ketika rasa kantuk mengunjunginya, ia pun melemparkan tubuhnya ke bumi seperti jasad yang mati sampai benar-benar dibangunkan. Dia tidur tidak tidak dalam keadaan suci, tidak ada shalat, tidak ada bacaan Al-Qur'an, tidak ada ucapan zikir. Ia tidur seperti tidurnya orang linglung, tersesat dan tak tahu arah. Ia selalu menghindar dari sunnah-sunnah Nabi dan dari ahlinya yang selalu konsisten mengamalkan sunnah itu. Ia menganggap agama itu bahan tertawa. Berpegang teguh dengan agama berarti kemunduran dan terbelakang. Masalah-masalah agama sudah kuno, habis dimakan dan ditelan zaman. Dia benci dengan orang-orang shalih dan baik-baik. Bukan karena apa-apa, hanya karena mereka itu taat beragama dan jujur. Jarak antara dia dan kedua orang tuanya lebih kurang tiga ratus mil. Tetapi, dia telah memutuskan dan melepaskan tali silaturahim dengan mereka. Siang, malam, jam-jam,menit-menit yang telah berlalu ia penuhi dengan permainan dan senda gurau. Ia menghabiskan waktu dengan canda tawa serta hanya mengikuti hawa nafsu. Allah subahana wataallah menghadirkan seorang dai yang berwibawa. Seorang kakek yang mampu memberikan kesan. Khatib yang membuat orang tak sadar dan pembicara yang handal. Dai ini sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Semoga Allah merahmatinya. Dai tersebutlah yang menyadarkan tentara tersebut. Dai itu berbicara kepadanya dengan kata-kata yang kanseolah membawa hati pergi menuju negeri akhirat. tutur katanya membuat seluruh jiwa tertawan. Tentara tadi mendengarkan perkataan orang tua itu dengan seksama. Orang tua itu menjelaskan tentang firman allah subbahana wata'allah, " Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (al-hasyr:18) Dai itu berbicara panjang lebar mengingat tentang akhirat, keanehan-keanehan dan ketakutan-ketakutan yang ada di sana. Ia bercerita tentang surga dan neraka. Tentara itu pun terkesiap, dan seketika timbul hasrat untuk mendekatkan diri kepada allah. Tentara tadi berujur tentang dirinya, " Saya benar-benar bagaikan berada dalam keadaan kacau balau, tidak tahu di mana saya. Saya benar-benar kehilangan kekuatan untuk berdiri. Saya pun terduduk di atas bumi ini. Tangisku menderu Allah-lah yang maha tahu. Sang pemberi nasehat tadi telah selesai menyampaikan peannya. Namun, pendosa yang telah menyesal ini belum berhenti menangis dan tidak akan pernah berhenti. Allah berfirman, "Pada hari itu kamu dihadapkan kepada Tuhanmu, tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi, bagi allah". (al-haqqah:18)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar